Confucius (551 -479 BC), filosof china dan juga seorang pendidik, adalah salah satu tokoh terpenting dalam seharah China, dan menjadi salah seorang yang paling berpengaruh dalam sejarah dunia. Namanya dalam bahasa china adalah Kong Zia tau Kung Tzu.
Kehidupan Confucius
Banyak hal mengenai kehidupan Confucius adalah tidak pasti. Dia dilahirkan di propinsi Lu, yang sekarang ini adalah propinsi Shandong atau Shantung, pada periode kedua Dinasti Zhou atau Chou (1045 – 256 BC). China kemudian terbagi menjadi beberapa Negara bagian. Meskipun Negara bagian ini berada dibawah kekuasaan raja Zhou, namun cukup independen dan sering terjadi peperangan.
Ayahnya sepertinya wafat ketika Confucius masih muda. Kematiannya meninggalkan keluarganya dalam kemiskinan, sehingga Confucius harus bekerja untuk medukung keluarganya. Selain itu, ia juga berusaha untuk mendapatkan edukasi. Sebagai seorang dewasa, dia memperngaruhi orang lain dengan ajarannya dan sifat baiknya, yang pada akhirnya dia berhasil mendapatkan murid dan dan pengikut. Pengalaman Confucius bertambah dan menginstruksikan pada muridnya untuk tidak melihat kekayaan atau strata social, dan menghakimi seseorang berdasarkan karakter dan perbuatan seseorang ketimbang dari status sosial mereka.
Confucius akhirnya ditunjuk sebagai pejabat hukum di Lu. Dia melepaskan pekerjaannya, karena memprotes aksi korupsi pemerintah. Setelah kepergiannya dari pekerjaan, dia menghabiskan beberapa tahun untuk menjelajahi propinsi china yang lain, dan berharap untuk menemukan seorang penguasa yang mampu mengimplementasikan filsafatnya. Selama perjalanannya, dia sering kelaparandan bahkan pernah hamir terbunuh. Gagal dalam menemukan seorang penguasa yang dicari, Confucius kembali ke Lu. Dia diberikan posisi yang rendah dalam pemerintahan, namun sejumlah muridnya berhasil mendapatkan posisi tinggai di Lu dan lainnya.
Setelah kematiannnya, murid-muridnya mengumpulkan perkataan dalam sebuah kitab yang bernama Lun Yu, sebuah buku yang berisi 20 bagian. Ilmuan secara umumnya setuju bahwa 5 bagian terakhir disusun oleh murid-murid generasi jauh setelahnya. Terdapat perselisihan yang kuat mengenai berapa banyaknya dari 15 bagian yang bisa dipercaya untuk diatributkan kepada Confucius atau muridnya.
Ajaran Confucius
Confucius percaya bahwa China telah menikmati kehidupan yang utopis/ideal dibawah kendali raja-raja bijaksana zaman dahulu. Confucius meyakini bahwa raja-raja bijaksana tersebut memiliki de atau te yang bermakna kebaikan atau keutamaan, atau sejumlah charisma yang datang dari menjadinya seorang yang baik yang membuat orang lain mengikutinya. Hasilnya, mereka mampu mengatur pemerintahan melalui kekuataan dalam contoh-contoh yang bernilai akhlak, bukan dengan kekuatan militer atau hukuman kriminal.
Menurut Confucius, seorang yang baik memiliki ren atau jen, yang bermakna kemanusiaan, atau kebaikan, yang mana merupakan hasil akhir dari semua sifat baik dan utama. Mislanya, seseorang yang memiliki ren akan selalu melakukan hal yang pantas berdasarkan peran sosialnya. Yi ini (yang bermakna kebenaran) meliputi ketaatan pada penguasa atau orang tua, yang tentunya tidak taat secara buta. Confucius menekankan bahwa kita harus mendorong petinggi-petinggi kita untuk bersikap akhlaki dan meninggalkan posisi ketika penguasa bersikeras pada tindakan yang tidak akhlaki. Orang-orang yang memiliki ren melakuakan apa yang benar, meskipun berbahaya untuk dirinya, ataupun kesulitan yang akan di hadapinya. Orang yang seperti ini akan setia pada ucapannya, jujur dan tidak beromong kosong. Pada akhirnya, semua kebaikan harus diterapkan pada jalan yang fleksible yang menunjukan apresiasi dari kondisi dan orang-orang.
Confucius menekankan tiga hal yang menolong dan mempercepat pengolahan kebaikan dan keutamaan: ritual, edukasi, dan keluarga. Ritual dapat mencakup apapun dari upacara pemakaman sampai pengorbanan untuk roh-roh nenek moyang, berpakaian, ketika makan ataupun menjamu tamu. Confucius percaya bahwa melakukan ritual dengan semangat yang dalam, bukan hanya sebagai tanda dari sebuah kebaikan, namun juga membantu mengolah kebaikan dalam diri seseorang. Dia berfikir bawha terdapat hanya satu orang yang mengoreksi ritual-ritual, mereka yang diwarisini oleh para raja-raja bijaksana zaman dahulu. Gagal dalam menjalankan ritual dengan benar, atau menjalankannya tanpa ada sikap penghormatan merupakan sebab dan gejala dari karakter buruk dan reduksi sosial.
Menurut Confucius, keluarga merupakan hal yang sangat penting, karena dalam keluarga, kita pertama kali mengenal bagaimana harus mencintai dan menghormat sesama. Rasa hormat ini yang akan menjadi dasar kebaikan dan keutamaan dalam kehidupan mendatang.
Budaya Confucian
Confucius menganggap dirinya sebagai perantara dan bukan seorang innovator, karena dia percaya bahwa semua pengajarannya tak lain merupakan jalan-jalan pada zaman kebijaksaan yang dulu. Namun pemikirannya jauh lebih asli dibandingkan dengan yang ia pikirkan, dan dia memulai salah satu budaya terbesarnya. Tradisi ini dikenal di China dengan nama Rujia atau Ju Chia yang bermakan sekolah para ilmuan. Namun dikelan di dunia barat dengan nama Confucianism. Pengikut Confucius semua mencoba mengikuti jalan Confucius untuk hal yang mereka pahami, namun mereka sering sangat tidak setuju mengenai apa yang dimaksud dengan “jalan” itu sendiri. Misalnya, Confucius hampir sama sekali tidak membahas tentang alaminya manusia (human nature), namun para pengikutnya memperdebatkan apakah human nature adalah baik (seperti yang diargumentasikan pada abad ke-4 BC oleh Mencius) ataukah buruk (pendapat Xunzi pada abad ke-3 BC).
Zhu Xi atau Chu His adalah seoran filsufyang tinggal pada abad ke-12 AD, mempengaruhi pemikiran Confucius selama berabad-abad. Pandangannya diadopsi oleh pemerintah. Zhu Xi memperkenalkan bahwa Sishu (Four Books) sebagai inti dari Filsafat orang-orang Confucian. Buku tersebut meliputi Analects, Book of Mencius, Greater Learning, Doctrine of The Mean. Kedua yang terakhir dimungkinkan berisi tentang perkataan filosofis dari Confucius, yang tersusun secara sistematis dan dengan komentar dan syarah oleh para pengikutnya. Komentar-komentar Zhu Xi banyak terdapat pengaruh-pengaruh dari ajaran Budha Zen. Penafsiran ini selanjutnya mempengaruhi berapa banyak orang yang mengerti tentang Confucius bahkan hingga sekarang.
Selama Revolusi Budaya China pada tahun 1966-1976, Confucius dianggap sebagai sebuah element Feodalis China Lampau oleh pemerintah Komusnis China. Namun meskipun begitu, perubahan ekonomi dan sosial sejak tahun 1980an telah mendorong china untuk perhatian dan menghormati Confucius dan pemeluknya.
Dari perspektif modern, pandangan dunia Confucius memiliki batas-batas tertentu. Dia tidak memperhatikan keanekaragaman budaya, menolak persamaan gender, menunjukan ketidaktertarikan pada pengetahuan alam dan teknologi, filsafat politiknya yang tidak demokratis, dan tidak memberikan tekanan yang cukup untuk perubahan sosial. Namun, Confucius tidak ragu untuk melanjutkan menginspirasi orang-orang dunia untuk keharmonisan sosial, pandangannnya dalam kebaikan dan keutamaan manusia, dan tekniknya untuk mengolah etik/akhlak tiap individu.


