Confucianism
Confucianism adalah sebuah aliran pemikiran politik, intelektual dan agama yang dikembangkan pada abad ke-5 BC oleh seorang Filsuf China yang bernama Confucius. Di China, ajaran ini bernama Ru Jia atau Ju Chia, yang bermakna Sekolah Para Ilmuan. Confucianisme membantu mereformasi pemerintahan, sehingga memberikan manfaat untuk orang, dan membangun akhlak terutama dalam masalah intern pemerintahan. Ajaran ini mengajarkan untuk menghormati yang lebih tua dan melegitimasi kekuasaan orang-orang yang menjadi figur penting untuk kepercayaan tradisional, praktik ritual, pendidikan, dan ikatan keluarga yang dekat. Confucianism dimulai di China, yang kemudian menyebar ke Korea, Jepang dan Vietnam.
Ajaran Confucianism
Sedikit yang diketahui mengenai kehidupan Confucius. Banyak cerita tradisional tentangnya yang lebih terhitung sekedar mitos. Sumber yang paling akurat mengenai dia dan ajarannya adalah sebuah kitab yang bernama Lun Yu, sebuah koleksi ungkapan dan perkataan mengenai kehidupannya serta para pengikutnya.
Confucius melihat dirinya sebagai seorang perantara, bukan seorang pencipta. Dia percaya bahwa dia hanya mengajarkan dao atau tao yang bermakna jalan para orang bijaksana zaman dahulu. Namun, pemikirannya jauh lebih asli daripada apa yang ia sadari. Kitabnya merupakan teks china pertama yang menekankan konsep ren. Ren diterjemahkan sebagai kemanusiaan atau kebaikan. Untuk Confucius, ren merupakan tahap akhir dari akhlak manusia. Ren merupakan sebuah kualitas yang setiap manusia harus berusaha keras untuk mencapainya. Namun sangat ditegaskan bahwa Confucius sangat berhati-hati dalam melabelkan istilah ren pada setiap orang. Oleh karena itu, kehidupan yang baik adalah sebuah ambisi tiada akhir untuk kesempurnaan akhlak.
Dalam sebuah pandangan pengikut Confucius tradisional, ren memeiliki dua aspek. Loyalitas dan resiproksitas. Loyalitas bermakna komitmen pada jalan, sedangkan resiproksitas bermakna tidak membuat susah orang lain sebagaimana kita juga tidak menginginkan akan hal itu. Pandangan alternatif lain, ren merupakan kombinasi dari banyaknya kebaikan dan keutamaan, termasuk loyalitas, resiproksitas, kebijaksanaan, keberanian, kebenaran, keshalehan, dan keimanan. Kebijaksanaan memiliki beberapa aspek termasuk menjadi hakim yang adil untuk orang lain. Keberanian berarti ketiadaan rasa takut untuk melakuakan sebuah kebenaran. Kebenaran berarti melakukan apa yang pantas berdasarkan peran seseorang, seperti ayah, anak, guru, atau murid. Keshalehan yakni, bertindak dengan penuh cinta dan hormat pada orang tua. Keimanan meliputi kejujuran dalam kata dan tidak menjadi omong kosong.
Confucius juga menekankan upacara keagamaan, seperti upacara pemakaman, penyajian makanan atau anggur untuk roh-roh nenek moyang, pertunjukan musik dan tarian, penyambutan tamu, tata cara makan, dan berpakaian. Ritual kegamaan itu menjadikan manusia lebih berakhlak mulia, karena hal tersebut mengajarkan kita untuk fokus pada sesuatu yang lebih penting dari diri kita sendiri.
Pengikut Confucius
1. Mencius
Mencius, seorang confucian yang hidup pada abad ke-4 BC, mengklaim bahwa alaminya manusia adalah baik. Dengan ini, dia mengartikan bahwa manusia terlahir untuk cenderung berakhlak baik. Tanpa diajari, setiap orang setidak-tidaknya memiliki perasaan yang kecil untuk bersimpati pada kesusahan orang lain. Serupa dengan hal itu, terdapat beberapa hal yang orang-orang merasa malu untuk dikerjakan. Menurut Mencius, jika kita mengolah perasaan simpati ini, akan berkembang menjadi sebuah akhlak yang baik. Dan juga jika kita mengolah rasa malu, akan berkembang menjadi sebuah kebenaran (untuk bertindak benar).
Mencius mempercayai bahwa adalah sebuah tugas manusia untuk mengolah dasar-dasar kebaikan dalam alam untuk menyiapkan sifat kemanusiaannya. Karena dia berfikir bahwa setiap manusia semuanya sudah berkeinginan pada kebaikan. Mencius menekankan pentingnya konsentrasi internal atau refleksi dalam mengolah indra etiknya. Dia membandingkan pengolahan etika seperti menumbuhkan tanaman dewasa dari biji.
2. Xun Zi
Pemikir utama confusian yang lain adalah Xun Zi atau Hsun Tzu, yang hidup pada abad ke-3 BC. Xun Zi mengkritik dan berargumen bertentangan dengan pandangan Mencius, bahwa alaminya manusia adalah buruk. Oleh karena itu, Xun Zi mengartikan bahwa manusia aslinya tidak memiliki personalitas yang baik sejak lahir. Jika dibiarkan, maka manusia akan berbuat serakah, dengki, benci dan berhasrat.
Karena pandangannnya mengenai alaminya manusia, Xunzi menekankan pentingnya pendidikan dan perlunya seorang guru untuk menuntun muridnya dalam pelajarannya. Menurut pendapatnya, orang-orang harus diajar untuk berlatih moderasi dan mengontrol. Dia mengklaim, untuk mendapatkan sifat baik pada setiap orang seperti halnya dengan mengolah gelondongan kayu ke bentuk yang baru.
3. Dong Zhong Shu dan Dinasti Han.
Pada abad ke-2 BC, ilmuan Confucian Dong Zhong Shu mengkombinasikan pandangan Confucian yang lain. Seperti contohnya, dia memperkenalkan ide yin dan yang, dua aspek komplementer dan berlawanan yang ditemukan pada proporsi yang bervariasi pada setiap sesuatu di dunia. Aspek yin/yang ini meliputi gelap/terang, basah/kering, wanita/pria. Dia juga mengenalkan sebuah ide bahwa semua materi bergerak melalui lima fase: besi, kayu, api, tanah, dan air. Teori-teori ini berkenaan dengan struktur dari alam semesta yang memiliki pengaruh yang bertahan lama.
Dong Zhong Shu hidup pada Dinasti Han (206 BC-220 AD), dan dia membuat percaya penguasa Han untuk mengadopsi Confucianism. Juga selama Dinasti Han, teks-teks yang dikenal dengan five classic, dibangun sebagai basis untuk pengajaran Confucianism. Teks-teks ini adalah shi jing/books of songs, shu jing/books of history, yijing/book of changes, chun qiu/spring and autumns annal, li ji/books of rituals.five classic ini berisi tentang prinsip-prinsip penting dari kepercayaan Konfucianism.
Kejadian lain selama Dinasti Han. Barangkali lebih penting untuk masa depan Confucianisme, adalah pengenalan Budha ke dalam china. Budha yang dimulai dari India, menjadi agama yang paling popular dan pergerakan filosofis di cina, dan bertahan selama beberapa abad. Beberapa konsep filsuf budha menjadi sebuah pusat untuk confucianisme juga. Konsep2 ini meliputi pentingnya pencapaiain pencerahan unutk mengatasi keegoisan, dan keterhubungan inter pada segala sesuatu.
Neo-confucianism
Setelah berabad-abad pendominasian intelektual dan budaya budha, china memulai untuk merasakan pemulihan kembali pemikiran Confucian selama dinasti Tang (618 AD-907 AD). Dipimpin oleh seorang penyair dan penulis yang bernama Han Yu. Han Yu menyerang budha dan Daoism, yang mana dia percaya kedua hal itu mencegah pemerintah unutk melihat bagaimana mereka menolong orang. Untuk meningkatkan kesejahtaraan umum, Han yu mendesak mereka untuk mempelajari cara pendahulu-pendahulu bijak mereka dengan Five classic. Han Yu hamper kehilangan seluruh hidupnya untuk berani mengkritik penerimaan kerajaan akan ajaran budha.
Kebangkitan anti budha dan anti daoist terkenal dengan Daoxue (the study of the way). Yang umumnya dikenal dengan neo-confucianism di barat. Neo-confucian percaya bahwa mereka hanya mempertahankan dan mengklarifikasi apa yang telah tertulis di Confucian classic. Namun, interpretasi mereka lebih diwarnai dengan warna budha. Seperti contoh: dimana Mencius berbicara mengenai “kecambah” virtue yang harus dijaga dan diolah sehingga tumbuh dewasa. Neo-confucian percaya bahwa seluruh manusia membagi a fully formed virtous nature yang mana keberadaannya tersembunyi oleh keegoisan. Kepercayaan ini sangat mirip dengan pandangan budha, dimana kita harus membuka shared budha nature.
1. Cheng Yi and Cheng Hao
Dua bersaudara ini mengembangkan dasar sistematis untuke neo-confucianisme pada abad ke-11 AD. Mereka berargumen bahwa semua wujud memiloiki dua aspek, qi and li. Yang bermakna bahan dan pola struktur, yang makna aslinya adalah asas atau dasar. Semua li atau structure, hadir sepenuhnya dalam setiap sesuatu yang ada. Namun sesuatu itu dibedakan dengan kejelasan adanya qi dari mereka. Manusia lebih memiliki qi yang lebih terang dan jelas daripada anjing. Dan anjing memiliki qi yang lebih terang dan jelas daripada bunga matahari. Sesuatu dari jenis yang sama dibedakan dari terang jelasnya qi mereka. Jadi, meskipun dua-duanya adalah manusia, orang bijaksana Confucian memiliki qi yang lebih terang daripada kita. Dan juga, baik Confucian dan kita memiliki qi yang lebih jelas daripada seekor semut.
2. Zhu xi
Yang paling terkenal dan berpengaruh dalam neo-confucian adalah Zhu Xi/Chu His, seorang filsuf abad 12, yang tercatat sintesis dan karangnnya yang bertahan lama. Zhu xi mengadopsi system dari dua bersaudara Chen, dan neo-confucianisme barunya itu dikenal dengan pemikiran Cheng-Zhu atau the study of principle school. Zhu Xi juga merevolusi untuk mengganti kurikulum pendidikan jauh dari five classic, sehingga menjadi four book: lunyu/analects, daxue/great learning, Mengzi/books of Mencius, and the zhongyong/doctrine of the mean. Keempat buku itu merupakan koleksi perkataan Confucius dan Mencius dan juga komentar-komentar pengikut mereka.
Zhu xi mempercayau bahwa qi dari sebagian besar orang sangat tidak jelas/terang. Pertamanya merka tidak bias mengandalkan kecenderungannya untuk memandu mereka untuk melakukan apa yang benar. Namun, study tentang text classic ayng dibarengi dengan meditasi dan praktek ritual, akan menolong orang-orang unutk mengklarifikasi qi mereka. Sehingga mereka pada akhirnya bias mengandalkan intuisi mereka. Zhu xi juga berfikir bahwa murid-murid akan sulit untuk mengerti the classic tanpa bantuan, sehingga dia menulis penjelasan yang singkat dan komentar yang jelas padabuku-buku itu.
Pada 1313, the four books, yang diterjemahkan oleh Zhu Xi, menjadi dasar ujian PNS. Ujian ini merupakan pintu gerbang untuk mendapatkan posisi yang kuat dan menguntungkan dalam birokrasi china. Meskipun ujian ini diakhiri pada tahun 1905, pandangan Zhu Xi masih dipertimbangkan sebegai perwakilan dari orthodox Confucianism oleh almuan traditional.
Pandangan Zhu Xi telah mendapatkan banyak kritik. Zhu Xi berdebat dengan filosof abad 12 lainnya, Lu XiangShan, mengenai pandangan qi dan li. Namun Lu Xiangshan berargumen bahwa karena alaminya manusia adalah baik, sikapnya dan emosinya yang spontan dan tidak dipaksa akan menjadi virtous. “the classics hanya merupakan catatan kakiku.” Kata li dengan singkatnya.
3. Wang Yangming
Kritik Lu disukseskan pada awal abad ke-16 oleh Wang Yangming, seorang jenderal dan negarawan.slogan terkenalnya persatuan ilmu dan tindakan. Dengan ini ia mengartikan bahwa siapapun yang aslinya tahu apa itu virtous akan bertindak virtuously, dan siapapun yang gagal bertindak virtous tidak akan tahu banyak apa itu virtous.
Wang menuduh Zhu Xi menyarankan muridnya untuk mendaptkan pengetahuan tentang virtue melalui four books terlebih dahulu, kemudian bertindak virtous setelahnya. Wang mengklaim bahwa pendekatan ini hanya menghasilkan orang-orang yang mengandalkan teori ketimbang berbuat virtue. Wang berargumentasi bahwa pikiran kita is pure principle (li), sehingga kita bias percaya pada penghakiman kita sendiri, selama kita mampu berhati-hati untuk mengidentifikasi keegoisan yang merusak pemikiran kita. Pemikiran neo-confucian yang baru ini dikenal dengan Lu-Wang School, atau the study of the Mind School.
Semua neo-confucian percaya bahwa Mencius dengan benar menerangkan pengajaran Confucius. Namun ketidaksetujuan antara Cheng-Zhu dan Lu-Wang mengenai neo-confucianisme, sama halnya seperti ketidaksetujuan Xunzi dengan Mencius. Xunzi mengkalim bahwa hal itu bagus, namun Mencius mengatakan hal itu baik. Xunzi dan Cheng-Zhu kedua-duanya menekankan untuk mempelajari classic texts sebagai metode untukmengolah etika, sementarea Mencius dan Lu-Wang menekankan indera etika orang.
4. Dai Zhen.
Selama Dinasti Qing (1644-1911)banyak Confucians mulai mempercayai bahwa Filsuf Cheng-Zhu dan LuWang salah membaca Confucian classic karena ketidakhatia2an dalam membaca text-text asli dan konteks sejarah. Yang mengkritiknya adalah Dai Zhen (Tai Chen) yang hidup pada abad 18. Dai Zhen menyediakan bukti yang jelas bahwa neo-confucians telah memberikan arti budha atau Daoist kedalam five classics. Dia menolak, seperti misalnya pandangan neo-confucian mengenai li (principle)sebagai aspek keberadaan. dia berkata itu berarti hanya good order atau pattern dalam ethical sense. Dia mendesak sebuah study baru menganai Classics.
Confucianism Kontemporer
Selama abad terakhir 19 dan awal abad 20, banyak pemikir china menolak confucianisme dan lebih mendukung pergerakan barat seperti Marxisme dan pragmatism oleh seorang filsuf amerika, John Dewey. Penolakan ini muncul dari lemahnya ekonomi dan militer china dalam menghadpai agresi dan eksploitasi bagain Jepang dannegara2 bagian barat. Lu Xun dan penulis lainnya mengambil peran dalam May Fourth Movement pada 1919, dan menerangkan bahwa confucianisme merupakan salah satu masalah sumber budaya china dan kegagalannya untuk memodernisasi china.
Namun, yang lainnya percaya bahwa confucianisme bias direformasi dan kembali menjadi pandangan dunia kontemporer yang bernilai. Kebanyakan dari pemikir mencari untuk mensintersiskan neo-confucianisme dengan filosofi barat. Feng youlan (fung yu lan) mempelajari filsafat du amerika, sebelum kedatangnnya di china pada tahun 1920. Dia mengembangkan sintesis Cheng-Zhu neo-confucianisme dengan filsafat plato. Liu Shaoqi, Marxism china, mensintesiskan filsafat Confucian self-cultivation dengan filsafat politik marxisme. Selama revolusi budaya china (1966-1976), pemerintah china mendorong warga untuk menolak Confucian secara menyeluruh. Feng dipaksa untuk menarik kembali filsafatnya. Liu juga dikeluarkan dari partai komunis dan mati di penjara.
Diluar datarain china, yang dikenal dengan Manifesto Confucian baru diterbitkan pada tahun 1958. Confucianisme baru menerima secara esensinya interpretasi neo-confucian menganai confucianisme, yang dipengaruhi oelh Wang YAngming. Diargumentasikan bahwa baik china dan barat akan diperkaya jika pencapaian ilmiah, teknologi, dan demokrasi barat dikombinasikan dengan semangat dari tradisi Confucian.
Ketika pemerintaha china menjadi marxisme lemah, telah terjadi pembaharuan minat dalam tubuh Confucianism. Pemerintah bahkan telah memberikan dukungan untuk Confucian sebagai filsafat social yang berharga. Sebelum kematinannya pada 1990, Feng Youlan dibolehkan untuk mengajarkan filsfatanya. Liu Shaoqi kembali dihargai sebagai figure besar. Confucianism Baru mungkin menjadi versi confucianisme yang paling berpengaruh dalam dunia sekarang ini. Banyak ilmuan, yang menghancurkan pandangan kritis mengenai Confucian Dai Zhen, dan mempelajari bagaimana Confucianisme telah mengartikan hal-hal yang berbeda pada periode-periode yang berbeda.
Perkembangan utama lain pada abad akhir 20 adalah kecenderungan untuk menafsirkan Confucianism dalam sistem etika barat yang menekankan virtue. Seperti Aristotle atau filsuf abad 13, Thomas Aquinas. Pemikir china yang menggunakan “virtue ethics” mendekati ujian kesamaan dan perbedaan antara confucianisme dengan filsafat barat seperti dalam topik kulitas apa ygn dimiliki oleh virtue, bagaimana virtue diolah., human nature harus seperti apa sehingga manusia bias menjadi virtous, dan bagaimana cara hidup yang menunjukan virtue itu.


